Home » BELAJAR DARI SUKSES ETNIS TIONGHOA » VII.7 lRIT KEBANYAKAN ORANG SULIT UNTUK MENJADI IRIT

VII.7 lRIT KEBANYAKAN ORANG SULIT UNTUK MENJADI IRIT

Home > Membuka Toko > Bab 7 > Irit

 

 

IRIT

lRIT KEBANYAKAN ORANG SULIT UNTUK MENJADI IRIT

Banyak sekali tafsiran negatif pada orang yang selalu melakukan sesuatu dengan irit. Irit selalu dikonotasikan dengan pelit, tapi kalau disimak sebenarnya antara irit dengan pelit tidaklah sama. Seorang yang irit belum tentu pelit sedangkan orang pelit pun belum tentu irit. Irit sebenarnya melakukan sesuatu itu dengan efisien tanpa ada pemborosan sama sekali. Misalnya, bila Anda mencuci pakaian dengan sabun satu takarsendokteh saja sudah bersih, mengapa harus memakai tiga sendok teh untuk mencuci baju yang sama. Melakukan sesuatu yang berlebihan dengan menghabiskan biaya yang besar bisa dikatakan tidak irit, sedangkan melakukan sesuatu dengan berlebihan dan biaya kecil dikatakan irit. Sedangkan orang yang pelit bisa jadi meskipun baju yang dicuci itu sebenarnya perlu sabun, tapi hanya dikucek saja dan dibilas. Orang pelit tidak akan mengeluarkan biaya meskipun sebenarnya ia butuh biaya itu. Artinya, Anda harus mengeluarkan biaya “sedikit” mungkin untuk pekerjaan yang sama agar mendapatkan manfaat yang maksimal. Bukan dengan biaya maksimaluntuk mendapatkan hasil yang sama.

Permulaan seseorang membuka toko harus memahami dan melakukan tindakan “irit” agar usaha yang baru dijalani bisa bertahan dan berkembang. Bila toko hanya menghasilkan seribu rupiah, misalnya, Anda jangan mengeluarkan sebanyak seribu rupiah atau lebih, tapi Anda harus mengeluarkan seratus rupiah saja sebagai biaya.Tindakan inilah yang dimaksudkan agar usaha yang Anda jalankan dapat memperoleh tambahan terus menerus dari keuntungan.

Khusus bagi yang baru membuka toko, modalnya memang kecil, begitu pula dengan omzet penjualannya, sehingga yang diperoleh pun masih kecil pula. Tuntutan untuk selalu irit memang harus dijalani. Uang yang ada di toko Anda tidak dapat digunakan untuk membeli barang-barang inventaris, seperti sepeda motor, mobil, ataupun rumah yang Anda inginkan. Seperti yang dilakukan oleh Pak Acong, dalam membiayai hidupnya di awal membuka usaha yang masih kecil, dalam kehidupan sehari-hari selalu dilalui dengan sederhana saja. Dalam beberapa tahun dia tak pernah pergi kemana-mana, makan pun secara sederhana bahkan hanya bubur dengan lauk sederhana pula. Pakaian yang dipakai pun kebanyakan hasil pemberian dari pemasok-pemasok dan rumahnya pun masih mengontrak. Sementara uang hasil berjualan dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk memperbanyak barang dagangan dan itu berjalan sampai bertahun-tahun. Bisa dibayangkan bagaimana “sayangnya” dia terhadap uang hasil usahanya di awal-awal membuka toko.

Pada awal usahanya dia tidak membeli

sepeda motor meskipun telah memiliki uang. Jika akan membeli barang kebutuhan ke toko agen, dia lebih suka mengendarai sepeda kumbang dan menggunakan becak sebagai sarana mengangkut barang-barang yaոg dibelinya. Untuk tahun-tahun pertama usahanya, dia tak menggunakan pegawai seorang pun, semua ditangani sendiri bersama istrinya. Memang, di awal-awal berusaha dilaluinya dengan “penderitaan” untuk mendapatlkan hasil maksimal dimasa mendatang.

Itulah kepandaiannya dalam mengatur keuangan. Toko yang masih kecil dengan sendirinya omzet kecil dan keuntungannya pun masih kecil sehingga yang dikeluarkan untuk ongkos-ongkos juga harus kecil. Pak Acong betul-betul memperhatikan hal ini. Dan ketika toko sudah lumayan besar, diapun mulai berani membeli sepeda motor. Itu pun tidak dibeli dengan uang tunai tapi secara kredit. Dia memiliki pertimbangan jika dalam sehari penjualannya 1 juta dan keuntungannya rata-rata 10 persen maka akan diperoleh keuntungan 100 ribu. Setelah dikalikan 30 hari kerja maka keuntungan akhir yang diperoleh bruto adalah 3 juta. Dia hanya menggunakan Rp 250.000,00 untuk mengangsur kredit sepeda motor, sisanya untuk membeli barang-barang yang laku keras di pasaran.

Mengapa uang tunai yang dimiliki “tidak” untuk membeli sepeda motor saja daripada harus mengangsur ? Menurutnya, lebih baik uang tunai yang dimiliki digunakan untuk membeli barang-barang yang diperlukan untuk toko. Barang-barang untuk keperluan toko yang dibeli dengan tunai biasanya mendapat potongan yang lumayan besar. Dengan semakin banyaknya barang yang dijual secara lengkap. peluang untuk mendapatkan konsumen akan lebih banyak dan menambah aliran dana yang masuk. Sebenarnya “irit” di sini dimaksukan agar Anda pandai-pandai menggunakan uang yang Anda dapat itu untuk kemajuan toko selanjutnya.

345
-
Hubungi Kami : Raja Rak Minimarket

Leave a Comment