Home » harga jual rak minimarket » Jual Rak Besi Bekas

Jual Rak Besi Bekas

Jual Rak Besi Bekas | Rak Gudang Murah | www.rajarakminimarket.com

Jual Rak Besi Bekas murah dan berkualitas

 

Mereka yang Berkreasi dengan Mendaur Ulang Sampah

Jual Rak Besi Bekas

Selain bermanfaat bagi kelestarian lingkungan, mendaur ulang sampah juga bisa menghasilkan rupiah. Orang-orang kreatif ini pun telah membuktikan dengan pemanfaatan sampah melalui daur ulang.

Di Desa Wisata Kalianyar, Tamanan, salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah pencemaran lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan memang sering dikeluhkan oleh turis yang datang. Sejauh ini, sampah rumah tangga juga menjadi persoalan tersendiri. “Khususnya kesadaran warga terkait dengan bahaya sampah plastik terhadap keberlangsungan lingkungan,”ujar Slamet Riyadi, inisiator desa wisata Kalianyar.

Hingga saat ini, banyak masyarakat yang belum tahu dengan baik bagaimana memperlakukan sampah piastik. Sehingga warga kerap membuat sembarangan sampah berbahan plastik. Padahal dampaknya sangat besar terhadap kelestarian lingkungan. Secara alami, sampah plastik baru bisa terurai di tanah hingga seratus tahun.

Menyikapi persoalan tersebut, Slamet Riyadi pun tergerak. Dia mulai berbuat agar masyarakat sadar terkait dengan ancaman pencemaran lingkungan yang kian menjadi-jadi. Untuk persoalan sampah plastik, dia mencari terobosan dengan mendaur ulang sampah plastik. Mulai dijadikan tas hingga dompet.

Tak hanya mengajak dan mensosialisasikan kepada warga, dia pun memberikan contoh langsung. Setiap hari, pria yang juga ketua LSM Hijau Madani ini dengan bangga menggunakan hasil daur ulang sampah plastik buatan warga sekitar.

Tak heran, karena selalu menggunakan tas daur ulang dari sampah plastik, Slamet sering disindir oleh teman-temannya sebagai pemulung. “Ada juga yang bahkan menganggap saya sudah gila,” ungkapnya. Namun bagi Slamet itu semua adalah tantangan. Mengajak orang lain untuk sadar perlu perjuangan.

Di sudut kota yang lain, aneka boneka berbentuk beragam aktivitas masyarakat desa, seperti permaian enggrang, aktivitas kerokan, menjemur baju hingga penjual sate terpampang rapi di Flodista Galeri di Jl. A. Yani, Bondowoso. Benda-benda seni itu dijual dengan harga beragam. Mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu per buah.

Meski bernilai jual cukup tinggi, namun siapa sangka jika benda-benda seni itu dikreasi dari bahan baku yang nyaris tak bernilai, yaitu kulit jagung. Adalah Fran Soebijakto, seniman kawakan Bondowoso yang mengkreasi benda-benda tersebut. “Bahan bakunya cukup murah. Kita bisa ambil secara gratis di tempat penjual jagung bakar,” ujar Frans Soebijakto, si pemilik galeri Flodista ini.

Membuat boneka-boneka unik dengan bahan utama kulit jagung itu bukan kreasi kebetulan semata. Fran butuh bertahun-tahun itu. Hasil proses dari mengakrabi sampah hingga menyimak karya-karya seni di bali. Sudah sekitar tujuh tahun lamanya Fran berkreasi dengan kulit jagung itu.

Selain membuat boneka, karya lain berbahan utama kulit jagung adalah bunga hiasan yang biasa ditaruh di vas bunga. Aneka bentuk bunga bisa dikreasi dengan bahan baku utama kulit jagung ini. Mulai dari bungan mawar, matahari, krisan, hellegonia hingga bunga tulip. “Ada sekitar 40 jenis bunga yang kita kreasi dengan kulit jagung ini,” ungkap Fran.

Pembuatan hiasan bungan dengan kulit jagung juga tidaklah sulit. Mulanya, kulit jagung dijemur setelah sebelumnya diwarnai dengan menggunakan pewarna tekstil. Setelah ditiris dan diangin-anginkan, kemudian diborder atau dipanaskan untuk selanjutnya digunting menyerupai pola bunga yang diinginkan.

Selain berbahan baku mudah, alat-alat yang digunakan juga sangat murah. Hanya butuh mesin border yang dipasaran dijual seharga Rp 100-150 ribu per buah. Dengan dikreasi berbentuk bunga ini, kulit jagung yang semula tak bernilai kini memiliki harga jual yang cukup tinggi. “Harga yang kita patok Rp 3.500 per buah. Stok kita laris manis,” ungkap Fran.

Pembuatannya juga cukup cepat. Dalam satu hari, satu orang bisa menyelesaikan 60 hingga 75 tangkai bunga dari kulit jagung ini. “Bisa dibayangkan nilai ekonomi yang berputar dari pembuatan bunga kulit jagung ini,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman Fran, aneka benda seni dari kulit jagung ini laris manis di pasaran. Saat ini saja, dirinya tidak mampu memenuhi permintaan pasar yang tidak hanya datang dari dalam kota. Para konsumennya banyak datang dari kota-kota wisata, mulai dari Bali hingga Jogjakarta. Untuk itulah, prospek penjualannya masih terbuka lebar. Mengingat, sejauh ini, karya ini hanya diproduksi
di Bondowoso.

Tingginya permintaan itu karena benda-benda seni dari kulit jagung memiliki banyak keunggulan dibanding dengan dari bahan lain, seperti plastik misalnya. Selain ramah lingkungan, karya seni ini juga memanfaatkan benda-benda tak terpakai. Tapi di sisi artistik dan keawetan juga cukup bagus. “Kalau hiasan bunga ini bisa bertahan lebih sembilan tahun,” ungkapnya.

Dengan mengkreasi sampah menjadi benda-benda yang lebih punya nilai, Frans maupun Slamet Riyadi telah menunjukkan komitmennya untuk terus menjaga lingkungan.

148
-
Hubungi Kami : Raja Rak Minimarket

Leave a Comment