Home » ARTIKEL » IX.5 MENGENDALIKAN KEWAJIBAN YANG HARUS DIBAYAR

IX.5 MENGENDALIKAN KEWAJIBAN YANG HARUS DIBAYAR

Home > Membuka Toko > Bab 9 > Mengendalikan Kewajiban yang Harus Dibayar

 

 

images

Mengurangi kewajiban berarti mengurangi cash out flow. Kewajiban suatu toko juga dipengaruhi oleh besar kecilnya kewajiban yang harus dibayar. Bila cash inflow toko lebih kecil dari cash out flow, bencana pasti akan menimpa Anda. Toko menjadi tidak seimbang lagi karena harus mengeluarkan sejumlah uang yang melebihi pemasukan toko. Bisa jadi, tagihan yang dibayar melebihi laba penjualan yang diterima toko.

Mengurangi kewajiban berarti Anda harus mengendalikan pengeluaran – pengeluaran yang ada. Sering kali kita tidak sadar dengan banyaknya kewajiban kecil yang harus dikeluarkan, seperti membayar rekening listrik. PDAM, telepon, handphone, kartu kredit, atau hutang – hutang pada supplier. Meningkatnya rekening – rekening tersebut dapat mengganggu cash flow toko. Seorang customer saya selalu berhati-hati dengan kewajibannya. Misalnya, bila ada pipa air yang bocor dengan cepat memperbaikinya tanpa harus menunggu kerusakan lebih parah, karena kerusakan itu dapat menambah biaya rekening semakin tinggi. Bila menggunakan listrik customer saya juga memperhatikan. Dia mematikan lampu-lampu yang tidak dipakai dan segera pula mematikan lampu-lampu yang digunakan malam hari. Dia akan mematikan lampu depan tokonya pada pukul lima pagi dan menghidupkannya pukul enam sore. Memang. bila dihitung tidaklah seberapa selisihnya,tapi dia rupanya mendisiplinkan diri untuk tidak boros dengan segala sesuatu yang harus dibayar dengan uang. Begitu pula bila menggunakan telepon. dia akan berbicara seperlunya dan menghindari menelepon bila tak penting.

Memiliki handphone saat ini memang sedang musim. Semua orang dapat bergaya dengan handphone di genggaman tangannya. Hanya orang-orang yang memiliki kelebihan uang yang bisa memakai handphone, begitulah image yang berkembang akhir-akhir ini. Herannya, meskipun memiliki uang. Pak Acong sama sekali tak tertarik dengan benda yang satu ini. Kelihatannya “lucu”, orang sesukses dia tidak memiliki alat komunikasi untuk menghemat waktunya. Ternyata Pak Acong menilai bahwa memakai handphone baginya adalah suatu pemborosan. Memang betul, menggunakan pesawat yang satu ini akan menimbulkan suatu kewajiban pada pemiliknya. Pulsa handphone yang dibayar tiap bulan itu akan menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Kalau boleh saya katakan “arogan”. Pemilik handphone “dipaksakan” untuk selalu membayar kewajibannya. Menurut saya tidaklah dilarang memiliki handphone. Akan tetapi, bila handphone tersebut hanyalah sebagai benda inventaris belaka, maka memiliki HP sangatlah berbahaya. Apakah tidak sebaiknya memakai telepon konvensional saja?

Kartu kredit yang Anda miliki juga dapat menambah kewajiban, terlebih jika kartu ini tidak sering digunakan. Kartu kredit tak jarang akan menjerat seseorang untuk berhutang melebihi kemampuannya.Pakailah kartu kredit untuk keperluan-keperluan strategis. Seorang customer saya menggunakannya dengan bunga 1 persen, untuk membeli barang di toko khusus, kemudian barang itu dijualnya kepada orang lain dengan keuntungan tertentu dan mendapatkan uang tunai. Kemudian uang tunai yang didapat digunakan untuk membeli barang keperluan tokonya, yang bisa dijual dengan cepat. Uang tunai yang diperolehnya dari penjualan barang yang dibelinya dengan kartu kredit dapat berfungsi sebagai cash flow. Lebih berbahaya lagi, bila terlambat membayar kartu kredit, tentunya akan dikenai denda yang cukup lumayan. Bunga yang harus dibayar tersebut akan meningkatkan kewajiban.

Di sisi lain, membeli produk-produk yang kurang laku dengan cara kredit juga dapat meningkatkan kewajiban kita. Cash flow toko akan terganggu karena uang Anda “membeku” menjadi barang yang tidak laku. Sebaiknya membeli barang-barang yang kurang laku itu dengan cara konsinyasi. Dengan demikian, Anda tidak dibebani hutang yang harus dibayar sebelum barangitu laku. Karenanya, membelibarangyang tidaklakuitu akan meningkatkan kewajiban seorang pemilik toko, bila membeli secarakredit putus atau secara tunai.

Mengurangi kredit properti dalam jangka panjang. Membeli rumah pada saat cash inflow toko Andarendah sebaiknya jangan dilakukan. Tetapi sebaliknya, memilih kredit dalam jangka pendek, karena jika semakin lama jangka waktu kredit yang diminta, maka kewajiban yang harus dibayar akan besar sekali. Segeralah menutup atau melunasi kredit tersebut ketika keuntungan Anda telah berlipat-lipat melampaui cash out flow. Dengan demikian, belilah aset yang tidak menimbulkan kewajiban yang harus kita bayar, tetapi aset itu selalu memberi penghasilan walau kita tak bekerja untuk asetitu. Sebaliknya. asetlah yang bekerja untuk kita.

Belajar dari Robert Tpengarangbuku Rich Dad Poor Dad, berlatihlah untuk meningkatkan penghasilan Anda dengan cara membeli aset yang menghasilkan. Karenanya, setiap kali Anda sebagai pemilik toko setelah tutup buku di akhir tahun, berpikir dan burulah aset yang menurut Anda dapat memperbesar penghasilan. Berbisnis membuka toko adalah awal Anda untuk meraih aset yang Anda inginkan kelak. Karena usaha membuka toko diyakini dapat memberi penghidupan pada orang-orang yang mau mencobanya.

Kalau kita mau mengevaluasi ulang. mengapa etnis Tionghoa lebih berkonsentrasi dengan bidang pekerjaan ini dan tidak memilih bidang lain. Karena membuka toko adalah ajang belajar bisnis yang paling sederhana. Ada suatu kisah, yang mungkin bisa saya ceritakan disini. Barangkali, menurut pandangan secara pragmatis, etnis Tionghoa yang hidup dikota-kota besar memiliki suatu ciri khusus yang sering menjadi persepsi buruk. Yaitu sebuah komunitas yang selalu berkelompok dan tersentralisasi di suatu tempat. Tetapi, suatu ketika saya dapat menepisnya setelah melihat dengan kenyataan bahwa sebenarnya tidak seperti pandangan umum. Mereka sebenarnya sama seperti warga biasa, berdampingan dan hidup bermasyarakat.

Suatu ketika saya mendatangi suatu desa terpencil. di daerah perbukitan perkebunan kopi. Letak desa itu mendekati kota Banyuwangi dan melewati jalan suatu desa yang terletak antara Situbondo dan Bondowoso. Mobil yang saya naiki merangkak menuju ke atas, dan kemudian sampai disuatu lokasi yang cukup terpencil tersebut. Karena tujuan saya untuk survei dan akan menawarkan beberapa produk perusahaan, saya pun mendatangi toko-toko yang ada di lokasi pasar desa itu. Betapa tercengangnya saya ketika melihat kenyataan bahwa sebagian besar pemilik toko adalah etnis Tionghoa. Fenomena apalagi, pikir saya. Saya juga berpikir kalau mereka tidak bisa berinteraksi dengan warga sekitar, mustahil seorang yang “berbeda” dapat hidup berdampingan di tempat itu.

Menurut Pak Acong, meskipun agak melenceng dari persoalan bab ini, ternyata etnis Tionghoa memiliki falsafah “dimana ada matahari di sanalah ada sumber kehidupan”. Dan saya pun lebih terkejut, bagaimana mereka mengumpulkan asetnya? Ketika saya tanyakan pada salah satu pemilik toko itu, ternyata asetaset yang dibelinya sesuai dengan keadaan di sana. Bisa sawah, ladang, ataupun gudang penggilingan padi, atau gudang tembakau. Dan falsafah itu agaknya memberi “keteduhan” bagi kita, yang saat ini sedang terancam sumber nafkahnya. Mencoba meniru tidaklah buruk. tetapi bertindak akan lebih baik sebelum terlambat. Tidak peduli seberapa banyak kita akan gagal, tetapi yang lebih penting seberapa banyak kita harus bangkit. Dimana pun kita berada sumber kehidupan itu ternyata ada di sekeliling kita. Seperti pepatah di ia. kalau kita mau menerjemahkan “di mana ada peluang di sanalah rezeki akan kita dapat” Selamat mencoba !!!

472
-
Hubungi Kami : Raja Rak Minimarket

Leave a Comment